Jumat, 19 September 2014

Ditemukan, Gua Perekam
Riwayat Tsunami Ribuan
Tahun dii aceh

Sejarah akan mengingat hari saat Bumi
berguncang hebat. Pada 26 Desember 2004,
gempa bumi bawah laut berkekuatan 9,1 skala
Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas
pantai Sumatera Utara, Indonesia. Lindu memicu
tsunami 30 meter. Lebih dari 230.000 orang
tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat
tinggal.
Namun, tak ada catatan sejarah yang merekam
gempa dahsyat serupa pada masa lalu. Dan baru-
baru ini diketahui, justru alamlah yang
menyimpan riwayat.
Ilmuwan menemukan sebuah gua di pesisir barat
laut Sumatera, di Aceh, yang secara
mengagumkan merekam kejadian tsunami dahsyat
yang pernah terjadi di Samudera Hindia. Sejak
ribuan tahun lalu.
Gua kapur yang berada dekat Banda Aceh
ternyata menyimpan deposit pasir yang dielak
paksa oleh gelombang raksasa -- yang dipicu
gempa selama ribuan tahun. Para ahli
menggunakan situs itu untuk membantu
menentukan frekuensi bencana -- seperti
peristiwa 26 Desember 2004.
Caranya, dengan melakukan pengukuran usia
sedimen tsunami yang berada di dalam gua. Yang
pola lapisannya mudah dilihat, di antara lapisan
kotoran kelelawar.
"Pasir tsunami terlihat jelas karena dipisahkan
lapisan kotoran kelelawar. Tak ada hal yang
membingungkan saat penentuan lapisan," kata
ahli Dr Jessica Pilarczyk dalam pertemuan
terbesar ahli geologi dunia, American Geophysical
Union (AGU) Fall Meeting di San Francisco, seperti
Liputan6.com kutip dari BBC , Kamis
(12/12/2013).
Dr Jessica Pilarczyk adalah bagian dari tim riset
yang dipimpin Prof Charles Rubin dari Earth
Observatory of Singapore -- sebuah institut di
Nanyang Technological University Singapura.
"Sebuah kerja lapangan yang menarik. Aku tidak
berbohong kepada Anda. Kelelawar menjadi
sangat agresif ketika manusia mengganggu
habitat mereka. Tapi dari sudut pandang geologi,
gua ini memiliki stratigrafi (lapisan) yang paling
menakjubkan," tambah dia.
Kedekatan Sumatera dengan perbatasan lempeng
tektonik Indo-Australia dan Sunda. Gempa
dahsyat sering terjadi di sana, dan itu berarti
wilayah pesisirnya berisiko diterjang gelombang.
Dengan mengetahui seberapa sering itu terjadi
sangat penting untuk perencanaan dan kebijakan
di wilayah terdampak.
Gua di Aceh berada sekitar 100 meter dari zona
cipratan pasang tertinggi saat ini. Liang
masuknya sedikit meninggi, itu yang mencegah air
laut masuk -- kecuali tsunami dan badai yang
parah.
Dr Pilarczyk dan para koleganya menggali parit di
dalamnya, untuk menguak sejarah tsunami yang
tercatat di dalamnya.
Para ilmuwan tahu mereka sedang melihat
endapan tsunami di dalam parit itu. Apalagi,
mereka dapat menemukan serpihan sedimen
organisme dasar laut seperti foraminifera
mikroskopis .
7-8 Tsunami
Investigasi masih berlangsung, namun tim yakin,
gua itu menyimpan deposit dari 7-10 tsunami.
Dari sisi geometri gua, diduga tsunami-tsunami
itu dipicu oleh gempa dengan kekuatan 8 skala
Richter atau lebih.
Sementara, menentukan usia deposit dilakukan
dengan analisis radiokarbon serpihan organisme
yang ada di sana -- seperti moluska dan serpihan
arang. Bahkan sisa-sisa serangga dimakan oleh
kelelawar juga diteliti.
Saat ini, gua dipenuhi pasir dan kotoran
kelelawar. "Deposit tsunami 2004 benar-benar
membanjiri gua itu," kata Prof Charles Rubin.
Namun, gua tersebut menyimpan lapisan deposit
dari 7.500 sampai 3.000 tahun lalu.
"Gua pesisir ini adalah 'gudang' yang unik. Yang
memberi petunjuk tentang yang terjadi beberapa
ribu tahun lalu, yang memungkinkan kita untuk
mengetahui kapan terjadinya setiap tsunami
yang terjadi selama waktu itu," timpal Dr
Pilarczyk.
Tim investigasi lainnya di sepanjang pantai Aceh
baru bisa mendapat petunjuk tsunami yang
terjadi dari masa 3.000 tahun lalu hingga saat
ini.
Jadi apa pentingnya studi ini?
Pengetahuan yang didapat dalam riset teranyar
adalah tsunami-tsunami terbesar tidak terjadi
dalam jeda waktu tertentu. Bisa jadi ada jeda
panjang, namun ada juga peristiwa besar yang
terpisah hanya beberapa dekade.
Sementara, peneliti yang lain, Prof Kerry Sieh
mengatakan, ini adalah kisah tentang peringatan
alam.
"Tsunami 2004 mengagetkan semua orang.
Mengapa? Karena tak ada yang melihat ke
belakang, mencari tahu seberapa sering peristiwa
itu terjadi," kata dia.
"Bahkan, karena orang-orang tak punya catatan
sejarah bencana seperti itu terjadi, mereka pikir
itu tidak mungkin. Tidak ada yang siap, tak
seorang pun bahkan pernah membayangkannya,"
kata Prof Kerry Sieh.
Jadi, tambah dia, alasan tim ilmuwan melihat
sejarah adalah untuk mempelajari bagaimana
Bumi bekerja. Untuk mencari pertanda. Sebab,
sejarah bisa jadi berulang.
Foto: Ditemukan, Gua Perekam
Riwayat Tsunami Ribuan
Tahun dii aceh

Sejarah akan mengingat hari saat Bumi
berguncang hebat. Pada 26 Desember 2004,
gempa bumi bawah laut berkekuatan 9,1 skala
Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas
pantai Sumatera Utara, Indonesia. Lindu memicu
tsunami 30 meter. Lebih dari 230.000 orang
tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat
tinggal.
Namun, tak ada catatan sejarah yang merekam
gempa dahsyat serupa pada masa lalu. Dan baru-
baru ini diketahui, justru alamlah yang
menyimpan riwayat.
Ilmuwan menemukan sebuah gua di pesisir barat
laut Sumatera, di Aceh, yang secara
mengagumkan merekam kejadian tsunami dahsyat
yang pernah terjadi di Samudera Hindia. Sejak
ribuan tahun lalu.
Gua kapur yang berada dekat Banda Aceh
ternyata menyimpan deposit pasir yang dielak
paksa oleh gelombang raksasa -- yang dipicu
gempa selama ribuan tahun. Para ahli
menggunakan situs itu untuk membantu
menentukan frekuensi bencana -- seperti
peristiwa 26 Desember 2004.
Caranya, dengan melakukan pengukuran usia
sedimen tsunami yang berada di dalam gua. Yang
pola lapisannya mudah dilihat, di antara lapisan
kotoran kelelawar.
"Pasir tsunami terlihat jelas karena dipisahkan
lapisan kotoran kelelawar. Tak ada hal yang
membingungkan saat penentuan lapisan," kata
ahli Dr Jessica Pilarczyk dalam pertemuan
terbesar ahli geologi dunia, American Geophysical
Union (AGU) Fall Meeting di San Francisco, seperti
Liputan6.com kutip dari BBC , Kamis
(12/12/2013).
Dr Jessica Pilarczyk adalah bagian dari tim riset
yang dipimpin Prof Charles Rubin dari Earth
Observatory of Singapore -- sebuah institut di
Nanyang Technological University Singapura.
"Sebuah kerja lapangan yang menarik. Aku tidak
berbohong kepada Anda. Kelelawar menjadi
sangat agresif ketika manusia mengganggu
habitat mereka. Tapi dari sudut pandang geologi,
gua ini memiliki stratigrafi (lapisan) yang paling
menakjubkan," tambah dia.
Kedekatan Sumatera dengan perbatasan lempeng
tektonik Indo-Australia dan Sunda. Gempa
dahsyat sering terjadi di sana, dan itu berarti
wilayah pesisirnya berisiko diterjang gelombang.
Dengan mengetahui seberapa sering itu terjadi
sangat penting untuk perencanaan dan kebijakan
di wilayah terdampak.
Gua di Aceh berada sekitar 100 meter dari zona
cipratan pasang tertinggi saat ini. Liang
masuknya sedikit meninggi, itu yang mencegah air
laut masuk -- kecuali tsunami dan badai yang
parah.
Dr Pilarczyk dan para koleganya menggali parit di
dalamnya, untuk menguak sejarah tsunami yang
tercatat di dalamnya.
Para ilmuwan tahu mereka sedang melihat
endapan tsunami di dalam parit itu. Apalagi,
mereka dapat menemukan serpihan sedimen
organisme dasar laut seperti foraminifera
mikroskopis .
7-8 Tsunami
Investigasi masih berlangsung, namun tim yakin,
gua itu menyimpan deposit dari 7-10 tsunami.
Dari sisi geometri gua, diduga tsunami-tsunami
itu dipicu oleh gempa dengan kekuatan 8 skala
Richter atau lebih.
Sementara, menentukan usia deposit dilakukan
dengan analisis radiokarbon serpihan organisme
yang ada di sana -- seperti moluska dan serpihan
arang. Bahkan sisa-sisa serangga dimakan oleh
kelelawar juga diteliti.
Saat ini, gua dipenuhi pasir dan kotoran
kelelawar. "Deposit tsunami 2004 benar-benar
membanjiri gua itu," kata Prof Charles Rubin.
Namun, gua tersebut menyimpan lapisan deposit
dari 7.500 sampai 3.000 tahun lalu.
"Gua pesisir ini adalah 'gudang' yang unik. Yang
memberi petunjuk tentang yang terjadi beberapa
ribu tahun lalu, yang memungkinkan kita untuk
mengetahui kapan terjadinya setiap tsunami
yang terjadi selama waktu itu," timpal Dr
Pilarczyk.
Tim investigasi lainnya di sepanjang pantai Aceh
baru bisa mendapat petunjuk tsunami yang
terjadi dari masa 3.000 tahun lalu hingga saat
ini.
Jadi apa pentingnya studi ini?
Pengetahuan yang didapat dalam riset teranyar
adalah tsunami-tsunami terbesar tidak terjadi
dalam jeda waktu tertentu. Bisa jadi ada jeda
panjang, namun ada juga peristiwa besar yang
terpisah hanya beberapa dekade.
Sementara, peneliti yang lain, Prof Kerry Sieh
mengatakan, ini adalah kisah tentang peringatan
alam.
"Tsunami 2004 mengagetkan semua orang.
Mengapa? Karena tak ada yang melihat ke
belakang, mencari tahu seberapa sering peristiwa
itu terjadi," kata dia.
"Bahkan, karena orang-orang tak punya catatan
sejarah bencana seperti itu terjadi, mereka pikir
itu tidak mungkin. Tidak ada yang siap, tak
seorang pun bahkan pernah membayangkannya,"
kata Prof Kerry Sieh.
Jadi, tambah dia, alasan tim ilmuwan melihat
sejarah adalah untuk mempelajari bagaimana
Bumi bekerja. Untuk mencari pertanda. Sebab,
sejarah bisa jadi berulang. 

van

Tidak ada komentar:

Posting Komentar